Friday, July 31, 2009

Malioboro Street

Kalau datang ke Jogjakarta, jgn lupa singgah ke Jalan Malioboro. Terdapat banyak barang2 local yg dijual kat sini. Harganya pun murah2 dah bole tawar menawar lagi. We all punya la memborong sampai x ingat. hahahaha.... Ada jual baju batik, beg rotan dan banyak lg. Tp mmg x puas sbb we all kejar masa sbb flight pukul 2.3o ptg. Dah la hari tu hari Jumaat. So, org lelaki nak g sembahyang Jumaat lg. Kalau nak round kat sini kena satu hari kot. Hotel pun banyak kat sini. Kiteorg check in Hotel Mutiara. Gbr2 hasil shopping x sempat nak snap la.



The little information about Malioboro Street, Yogyakarta. Jalan Malioboro (Malioboro Street) is a major shopping street in Yogyakarta, Indonesia; the name is also used more generally for the neighborhood around the street. It runs north from the Yogyakarta kraton (palace) towards the roads that lead to either Surakarta to the east, or Magelang to the north, as well as Mount Merapi. The street is the centre of Yogyakarta’s largest tourist district; many hotels and restaurants are located nearby. There are the famous shopping center exact in the middle of malioboro street, The malioboro Mall.The street was for many years two-way, but by the 1980s had become one way only, from the railway line (where it starts) to the south - to Beringharjo markets, where it ends. The largest, oldest Dutch era hotel, Hotel Garuda, is located on the street’s northern end, on the eastern side adjacent to the railway line.


post signature

Muzium Kereta Keraton

Then we all g singgah Muzium Kereta Keraton pulak. Ada 23 koleksi kereta yang dalam hal ini disebut sebagai “kareta”yang disimpan didalam museum kareta yang dulunya merupakan ‘garasi’ bagi kereta-kereta kraton. Seekor kuda masih ada dikandang yang terletak disebelah lokasi museum. Beberapa kareta yang dianggap keramat disendirikan dan pintu penyekat hanya dibuka ketika ada pengunjung. Mama dpt info kareta2 ini from here.




Kareta Kyai Jongwiyat.

Buatan Belanda (Den Haag) tahun 1880. Peninggalan Sri Sultan HB VII, dipergunakan untuk manggala yudha atau dalam peperangan, misalnya untuk memeriksa barisan prajurit dan sebagainya. Sri Sultan HB VII adalah sultan yang paling banyak melakukan peperangan dengan Belanda. Kareta ini ditarik oleh 6 ekor kuda. Pada saat Sri Sultan HB X menikahkan putrinya kareta ini kembali dipergunakan. Beberapa bagian dari kareta ini sudah mengalami renovasi, misalnya warna cat yang sudah diganti menjadi kuning.

Kareta Roto Biru

Buatan Belanda pada tahun 1901 pada masa Sri Sultan HB VIII. Dinamakan Roto Biru mungkin karena kareta ini didominasi oleh warna biru cerah sampai ke bagian roda-nya. Dipergunakan untuk manggala yudha bagi panglima perang. Pada saat HB X menikahkan putrinya, kareta ini dipergunakan untuk mengangkut besan mertua. Kareta ini ditarik oleh 4 ekor kuda.

Kyai Rejo Pawoko

Buatan tahun 1901 pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VIII yang diperuntukkan sebagai sarana transportasi bagi adik-adik Sultan. Ditarik oleh 4 ekor kuda. Konon dibelinya bersamaan dengan lahirnya Pak Karno ditahun 1901.

Kareta Roto Praloyo.(kat dalam)

Merupakan kareta jenazah yang dibeli pada masa Sri Sultan HB VIII pada tahun 1938. Kareta inilah yang membawa jenazah Sultan dari Kraton menuju Imogiri. Ditarik oleh 8 ekor kuda.

Kareta Kyai Puspoko Manik.

Kareta buatan Belanda (Amsterdaam) yang dipergunakan sebagai pengiring acara-acara Kraton termasuk untuk pengiring pengantin. Ditarik oleh 4 ekor kuda.

Kareta Landower Surabaya. (merah)

Kareta ini sudah dipesan dari masa Sri Sultan HB VII dan baru bisa dipakai pada saat masa pemerintahan Sri Sultan HB VIII. Kareta ini buatan Swiss dan dipergunakan sebagai sarana transportasi penyuluhan pertanian di Surabaya.

Kareta Landower. (hijau)

Kareta ini dibeli pada masa Sri Sultan HB VIII pada tahun 1901, buatan Belanda. Dahulu sempat dipamerkan di Hotel Ambarukmo. Ditarik oleh 4 ekor kuda.

Kareta Kyai Manik Retno

Dibeli pada masa pemerintahan Sri Sultan HB IV tahun 1815, buatan Belanda. Merupakan kareta untuk pesiar Sultan bersama permaisuri. Ditarik oleh 4 ekor kuda.

Kareta Kanjeng Nyai Jimad. (depan)

Merupakan pusaka Kraton, buatan Belanda tahun 1750. Asli-nya hadiah dari Sepanyol yang pada saat itu sudah memiliki hubungan dagang dengan pihak kerajaan. Dipergunakan sebagai alat transportasi sehari-hari Sri Sultan HB I - III. Ditarik oleh 8 ekor kuda. Kondisi seluruhnya masih asli. Per kareta terbuat dari kulit kerbau. Setiap bulan Suro setahun sekali dilakukan upacara pemandian. Air yang dipergunakan untuk membersihkan kareta banyak yang memperebutkan.

Kareta Mondro Juwolo. (belakang)
Ini adalah kareta yang dulunya dipakai oleh Pangeran Dipenogoro. Cat-nya diperbarui pada saat diadakannya Festival Kraton Nusantara. Buatan Belanda tahun 1800. Ditarik oleh 6 ekor kuda. Fungsinya adalah sebagai alat transportasi.
Kareta Garudo Yeksa.
Kareta buatan Belanda tahun 1861 pada masa Sri Sultan HB VI. Kareta ini dipergunakan untuk penobatan seorang Sultan. Ditarik 8 ekor kuda yg sama (warna, kelamin). Dilakukan upacara pemadian setiap setahun sekali setiap dibulan Suro. Disebut juga sebagai Kareta Kencana (kareta emas). Semuanya yang ada di kareta ini masih asli termasuk simbol/lambang Burung Garuda-nya yang terbuat dari emas 18 karat seberat 20kg. Hanya digosok atau dibersihkan pada saat akan ada upacara penobatan karena kalau terlalu sering digosok emasnya akan terkikis. Konon sekitar 6-7gram emas akan hilang setiap kali digosok/dibersihkan. Bentuk mahkota-nya yang terbuat dari kuningan dengan puncaknya berbentuk seperti Tugu Monas karena konon Soekarno memang menggunakan bentuk mahkota ini untuk membuat desain Tugu Monas. Design kareta datang dari Sri Sultan HB I. Uniknya apabila pintu kareta dibuka maka akan ada tangga turun dengan sendirinya seperti yang sering dijumpai pada pintu-pintu pesawat terbang. Pengendali kuda hanya 1 orang. Kareta ini masih dipakai sampai sekarang.


post signature

Keraton Yogyakarta

We all just sempat singgah Istana Keraton Yogyakarta je. Nak g candi Borodur pun sempat. Next time kena datang lagi la. Datang betul2 untuk bercuti. hihihi....

In front of Keraton Yogyakarta

The palace court, a grand and elegant masterpiece of Javanese architecture, lies in the center of the city. It was founded by Prince Mangkubumi in 1755. The prince was then called Sri Sultan Hamengku Buwono I. He chose to build the palace between the Winongo river and the Code river.










Sultan Hamengku Buwono 8
Sultan yg paling banyak berjasa kepada rakyat.

Masjid Besar Yogyakarta









post signature


Wednesday, July 29, 2009

Flying to Jogjakarta

We all nyer flight ke Jogjakarta lebih kurang pukul 6.00 pagi. So, kena la kuar rumah pukul 4.00 pagi. Subuh di airport je. Kesian kat budak2. Tgh sedap2 tido dah kena kejutkan. Nasib baik la diorg x banyak ragam pagi tu.

Masa ni dalam pukul 5.30 pagi kot. Hari gelap lg.


Time ni dah sampai kat area Jogjakarta. Rasa jakun kejap bila tgk gunung2 berapi ni. Macam terapung2 je kat atas awan.

Inilah Gunung Merapi yg meletus tahun lepas. Rasaya ramai juga yg terkorban.

Suasana pagi di Jogjakarta. Kabusnya tebal sungguh!!!


Alhamdulillah... Dah sampai.
My Lovely Famili

Nampak macam lenggang...

Lepas tu.... ha, amik ko.
Masa naik teksi ni, mama rasa risau sgt sbb supir ni bwk laju!!! Lebig dahsyat supir kat Jakarta tu. Lubang pun main langgar je. Brapa kali mama dok jeling kat Mr. Hubby. Pastu papa pun bgtau... "Pak, bwk perlahan dikit ya... Ibunya lg hamil..." hehehehe...


post signature


Minum Ptg

Menu minum petang masa sambut my MIL & rombongan hari tu. Actually mama masak Meehoon Goreng, Karipap & Bubur Jagung. Tp sempat snap karipap je sbb masa nak snap meehoon & bubur, diorg dah sampai. Malu lak nak snap gambor2 nyer...

Sumber: My mak.
Mama tergoreng api kuat sbb nak cepat. So kulit karipap x berapa cantik.
Bahan-bahannya
Kulit/Doh
250g tepung gandum
2 sudu besar minyak masak - panaskan
garam + air

Inti
5 biji kentang
3 sudu besar kari ayam/daging
3 biji bwg merah
2 ulas bwg putih
Segenggam ikan bilis
Hirisan daun sup
3 sudu cili kering - mama x bubuh sbb bdk2 x makan pedas
Air garam secukupnya untuk menguli - jangan terlalu masin

Cara-caranya
Untuk membuat kulit karipap - campurkan tepung, minyak masak yang telah dipanaskan (utk mendapatkan kulit karipap yg rangup). Gaul rata guna sudu sbb panas. Kalau nak guna tangan bole la jgk. hahahaha... Bancuh garam dan air. Masukkan sedikit2. Uli doh hingga boleh dicanai dan mudah ketika mengelim.

Untuk buat inti - kentang dikupas dan dipotong dadu dan ketepikan.
Blend bawang merah dan bawang putih. Campurkan rempah kari dengan cili kering, ikan bilis & bahan2 blend. Tumiskan bhn2 tersebut hingga naik bau. Masukkan pes kari dan kacau rata. Kemudian masukkan kentang,air dan garam secukup rasa. Rebus sehingga kentang empuk dan air kering. Bila kentang dah empuk & inti nampak pekat, baru masukkan daun sup.

Apabila inti telah sejuk, boleh la mulakan proses mencanai dan mengelim. Goreng dengan api yang sederhana. Siap!!!


post signature

The Groups

Actually, mama & famili nak g Jogjakarta ni bknnya utk g bercuti je. Tp lebih kepada urusan keluarga. My MIL nyer side famili. Kiranya macam Jejak Kasih ler... hihihi... Nanti mama story kat next entry.

Ok, ni adalah rombongan yg akan turut serta ke Jogja ye.... hehehe... Dari kiri tu, mama panggil Cik Mun. (adik MIL), Ibu Yanti (sepupu MIL yg duduk kat Jakarta), my MIL & Mok (kakak MIL)

Then, bwk rombongan g makan kat Sesedap Malam

post signature